Kisah Inspiratif Penggugah Jiwa

Seorang anak muda berkeinginan untuk pergi berkelana sambil mencari obat dari penyakit yang dideritanya. Bertahun-tahun ia mengupayakan kesembuhan dari penyakitnya, tetapi seluruh pengobatan di kotanya berada tidak juga berhasil. Alasan itulah yang mendorongnya untuk pergi meninggalkan kota kelahirannya; meninggalkan kedua orangtuanya.

Sang ayah sangat paham dengan yang diderita anaknya. Sesungguhnya penyakit yang diderita anaknya bersumber dari gangguan syaraf akibat cemas. Akan tetapi, ia mengambil keputusan untuk membiarkan anaknya berkelana. “Langkah ini akan lebih menentramkan jiwanya,” pikir sang Ayah.


Sudah beberapa lama sang anak merantau. Kabar terakhir yang diterima sang ayah memberitakan bahwa anak lelakinya belum juga sembuh. Malam itu setelah melakukan shalat tahajjud, ia bergegas ke meja. Ditulisnya sepucuk surat untuk anak lelakinya.
Nak, kau berada 1500 mil dari rumah, dan kamu tidak meraskan perubahan, bukan? Aku tahu akan hal itu, Anakku. Sebab, kamu pergi sambil membawa serta satu-satunya penyebab dari kesulitan yang sedang menimpa dirimu, yaitu: dirimu sendiri! Tak ada yang salah dalam tubuhmu. Bukan karena badanmu engkau menjadi sakit. Sesungguhnya ia ada dalam pikiranmu. Sebagaimana yang dipikirkan orang, itulah yang akan dirasakannya. Apabila engkau memehami sepenuhnya kata-kata Ayahmu ini Anakku, pulanglah! Pulanglah! Insya Allah, engkau akan sembuh!
Mendapat surat dari ayahnya, sang anak menjadi marah. Ia menganggap bahwa ayahnya tidak sanggup memahami penderitaannya. Kemarahannya memuncak sehingga ia memutuskan untuk tidak pernah kembali ke rumah orang tuanya. Tidak pernah sama sekali, tekadnya meledak ersama kemarahannya.

Malam itu ia berada dalam puncak kegundahan. Sang anak terus mnyusuri jalanan kota yang disinggahinya. Langkahnya terhenti ketika di depannya berdiri sebuah masjid yang dipenuhi jamaah. Di dalam masjid sedang berlangung pengajian. Ia putuskan untuk masuk di dalamnya. Sayup-sayup ia mendengar seorang ustadz memberikan TaujihI-nya. Entah, energi dari mana ia terus mendekat. Di telinganya kata-kata ustadz itu terdengar jelas: barang siapa yang dapat menaklukkan dirinya sendiri, maka sesungguhnya ia lebih perkasa dari para pahlawan yang menaklukan kota! Rasulullah prnah berwasiat kepada kita, “Orang cerdik adalah mereka yang dapat mengendalikan dirinya, sekaligus beramal untuk bekal sesudah mati.”
Anak itu mulai berfikir, “Ceramah itu persis dengan yang ditulis ayah.” Tiba-tiba sebersit cahaya seakan menerangi jiwanya. “Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku lebih sangup melihat diriku sesungguhnya. Sesuatu yang paling dekat dengan diriku sendiri, dan lama aku abaikan dan tinggalkan.

0 comments:

Post a Comment